Covid-19

Studi Ungkap Pengguna Vape Lebih Berisiko Terkena COVID-19

August 15, 2020 | Fitri Chaeroni | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Di tengah pandemi virus corona  yang tak kunjung usai, Stanford University School of Medicine mengeluarkan studi baru terkait peningkatan risiko COVID-19 pada pengguna vape.

Pertanyaan mengenai kaitan penggunaan vape dan COVID-19 memang sudah mulai bersirkulasi sejak awal pandemi. Seperti yang kita tahu, COVID-19 adalah virus yang menyerang pernapasan. Untuk mengetahui lebih dalam soal kaitan vape dengan COVID-19, simak ulasannya berikut.

Latar belakang penelitian

Penelitian yang berjudul “Association Between Youth Smoking, Electronic Cigarette Use, and Coronavirus Disease 2019” ini pertama kali diterbitkan secara online pada 11 Agustus lalu di situs Journal of Adolescent Health.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari tahu apakah ada kaitan antara penggunaan rokok elektronik alias vape pada remaja dan anak muda dengan risiko penyakit COVID-19.

Baca Juga : Rokok Elektrik Alias Vape Bikin Sariawan, Mitos atau Fakta?

Sampel penelitian

Penelitian ini melibatkan setidaknya 4.351 responden asal Amerika Serikat yang terdiri dari remaja dan juga orang dewasa muda. Dengan rentang usia dari 13 hingga 24 tahun.

Penelitian ini dilakukan pada Mei 2020. Para peneliti merekrut sampel peserta yang dibagi rata antara mereka yang telah menggunakan rokok elektrik dan mereka yang tidak pernah menggunakan produk nikotin. 

Sampel juga mencakup jumlah orang yang kira-kira sama dalam kelompok usia yang berbeda (remaja, dewasa muda dan dewasa), ras dan jenis kelamin. Peserta menjawab pertanyaan tentang apakah mereka pernah menggunakan rokok atau vape.

Serta apakah mereka pernah menggunakan vape atau merokok dalam 30 hari terakhir. Mereka ditanya apakah pernah mengalami gejala COVID-19, menjalani tes COVID-19, atau menerima diagnosis positif COVID-19 setelah dites.

Hasil penelitian

Penelitian ini menyimpulkan bahwa anak muda yang pernah merokok atau menggunakan vape dalam 30 hari sebelum penelitian dilakukan, 5 kali lebih tinggi berisiko mengalami gejala COVID-19. 

Seperti batuk, demam, kelelahan dan kesulitan bernapas dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok atau menggunakan vape. Bergantung pada produk nikotin mana yang mereka gunakan dan seberapa baru mereka menggunakannya,

Anak muda yang menggunakan vape atau merokok, atau keduanya, 2,6 hingga sembilan kali lebih mungkin menderita COVID-19 daripada mereka yang tidak merokok atau menggunakan vape.

Mereka yang telah menggunakan rokok elektrik dan rokok konvensional dalam 30 hari sebelumnya memiliki kemungkinan 6,8 kali lebih besar untuk didiagnosis dengan penyakit tersebut. 

Baca Juga : Orang yang Merokok Lebih Rentan Corona, Mitos atau Fakta?

Penelitian ungkap keterkaitan vape dengan risiko COVID-19

Temuan dari sampel remaja dan dewasa muda ini menunjukkan bahwa merokok atau menggunakan vape, maupun penggunaan keduanya sekaligus merupakan faktor risiko signifikan yang mendasari penyakit COVID-19.

Maka dari itu penyedia layanan kesehatan, orang tua, sekolah, organisasi berbasis komunitas, dan pembuat kebijakan harus membantu membuat kaum muda sadar akan hubungan antara merokok dan vaping dan penyakit akibat coronavirus.

Selain memperingatkan remaja dan dewasa muda tentang bahaya vaping, para peneliti berharap temuan mereka akan mendorong pihak pembuat kebijakan atau pemerintah untuk lebih memperketat peraturan yang mengatur bagaimana produk vaping dijual kepada kaum muda.

Sekilas tentang vape

Vape atau vaporizer adalah perangkat apa pun yang digunakan untuk memanaskan dan mengaerasi larutan atau jus yang dimaksudkan untuk dihirup. 

Larutan tersebut biasanya mengandung nikotin dan perasa di dalamnya, serta zat tambahan lainnya. Nikotin dalam rokok elektrik dan rokok biasa membuat ketagihan. Rokok elektrik tergolong produk tembakau karena sebagian besar mengandung nikotin yang berasal dari tembakau.

Pembahasan mengenai bahaya vape sudah ada sejak lama. Meski dibilang lebih tidak berbahaya ketimbang rokok biasa, nyatanya vape juga punya efek yang tak kalah mengerikan. 

Salah satunya adalah temuan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika yang mencatat sudah ada 60 kematian akibat wabah penyakit paru-paru dan kematian yang terkait dengan vaping.

Baca Juga : Apa Bahaya Vape bagi Kesehatan? Selain Bikin Kecanduan, Ini Hal yang Perlu Kamu Waspadai!

Bahaya vape

Terkait penelitian di atas, bahaya vape terhadap anak muda memang nyata adanya. Berikut beberapa dampak berbahaya vape pada kesehatan anak muda:

  • Risiko kerusakan otak
  • Kecanduan
  • Gangguan perilaku.

Masa remaja adalah masa perkembangan otak yang penting. Paparan nikotin selama masa remaja dan dewasa muda dapat menyebabkan kecanduan dan membahayakan perkembangan otak.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

U.S. Department of Health and Human Services. Diakses pada 13 Agustus 2020. The Facts on e-cigarette use among youth and young adults

John Hopkins Medicine. Diakses pada 13 Agustus 2020. 5 Vaping Facts You Need to Know

Stanford Edu. Diakses pada 13 Agustis 2020. Vaping linked to COVID-19 risk in teens and young adults

Journal of Adolescent Health. Diakses pada 13 Agustus 2020. Association Between Youth Smoking, Electronic Cigarette Use, and Coronavirus Disease 2019

Wired. Diakses pada 13 Agustus 2020. A New Survey Links Vaping to Higher Covid-19 Risk

    register-docotr