Covid-19

Meski Belum Ada Vaksin, Pasien COVID-19 Tetap Bisa Sembuh! Bagaimana Caranya?

April 16, 2020 | Arie Kusnandar | dr. Ario W. Pamungkas
feature image

Coronavirus atau COVID-19 sudah meneror penduduk dunia sejak awal 2020. Sayangnya, sampai saat ini ahli kesehatan di beberapa negara belum menemukan vaksin dan obat yang bisa membuat pasien sembuh dari COVID-19.

Namun, meski belum ada obatnya, berbagai negara sudah melaporkan puluhan ribu pasien COVID-19 yang akhirnya dinyatakan sembuh, bahkan kondisi kesehatannya kembali prima setelah beberapa waktu.

Misalnya, Tiongkok beberapa waktu lalu menyatakan angka kesembuhan dari pasien Coronavirus  di negara tersebut terus meningkat, bahkan beberapa fasilitas kesehatan darurat yang dibangun khusus untuk menangani pasien COVID-19 mulai ditutup.

Bagaimana pasien bisa sembuh dari COVID-19 meski obatnya belum ditemukan? 

Tak semua pasien Coronavirus membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit. Kalau kamu didiagnosis positif untuk COVID-19, ada beberapa hal yang bisa dilakukan menurut WHO:

  • Istirahat dan tidur yang cukup.
  • Hangatkan tubuh dengan selimut atau jaket. Matikan AC jika kedinginan.
  • Konsumsi banyak cairan mulai dari air putih, teh, hingga makanan berkuah seperti sup.
  • Diam di rumah dan konsultasi ke dokter lewat telepon atau aplikasi konsultasi seperti Grab Health, untuk menghindari paparan virus ke orang lain. Dokter bisa membantu meresepkan obat untuk mengatasi demam dan meringankan batuk, serta menentukan apakah kamu perlu perawatan intensif di rumah sakit.
  • Yang terpenting, isolasi diri dari orang lain termasuk keluarga di rumah, supaya tidak menularkan virus.

Perawatan medis intensif penting untuk pasien yang sudah parah

Meskipun Coronavirus  terdengar ganas, laporan dari beberapa negara menyatakan bahwa banyak pasien positif virus ini yang berhasil sembuh setelah menjalani perawatan intensif. 

Laporan media lokal Tiongkok beberapa waktu lalu juga menyatakan bahwa pasien positif Coronavirus berusia 98 tahun dan 55 tahun dinyatakan negatif atau sembuh dari COVID-19 setelah melewati proses perawatan intensif. 

WHO sendiri terus memantau proses kesembuhan pasien Coronavirus di berbagai negara. Pada akhirnya, mereka menyatakan bahwa pasien yang sembuh adalah mereka yang segera mendapatkan perawatan intensif dari ahli medis

Lalu kenapa banyak pasien yang meninggal karena Coronavirus?

Meskipun belum ditemukan obatnya, tim medis dari berbagai negara terus mengumpulkan data, melakukan riset dan melaporkan berbagai uji klinis.

Mereka menemukan fakta bahwa pasien kasus Coronavirus  yang meninggal bukan diakibatkan virus tersebut melainkan karena penyakit lain yang sudah diderita sejak awal. Hal ini terjadi pada pasien kalangan lanjut usia atau lansia.

Lembaga kesehatan seperti Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organizations) mencatat bahwa pasien lanjut usia lebih rentan terhadap virus ini dan punya risiko kematian lebih tinggi dibandingkan anak-anak atau usia produktif yang dalam keadaan sehat.

Data dari WHO menemukan bahwa lansia dengan penyakit bawaan seperti kanker, diabetes, dan penyakit jantung berkontribusi terhadap penyebab kematian pasien Coronavirus. 

Kelompok orang rentan tersebut memiliki sistem imun yang tidak sebaik orang normal pada umumnya, sehingga virus ini lebih gampang masuk ke tubuh dan menimbulkan gejala yang lebih berat seperti kesulitan bernapas hingga gagal napas. 

Pihak Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok (China National Health Commision) menyatakan bahwa tim ahli medis di negaranya melakukan perawatan intensif terkait penyakit bawaan yang diderita pasiennya.

Tujuannya agar tidak terjadi komplikasi atau berkembang dalam tempo cepat ke fase kritis yang membuat kondisi kesehatan pasien Coronavirus  memburuk.

Bagaimana dengan anak-anak?

Laporan data WHO menyebutkan bahwa hanya 2,4 persen kasus Coronavirus di Tiongkok terjadi pada anak-anak, dan hanya 0,2 persen yang hingga berada dalam kondisi kritis. Namun, diklaim WHO sejauh ini tidak ada laporan kematian pada kasus Coronavirus di usia anak-anak.

Laporan yang lain menyebutkan bahwa kasus Coronavirus di Tiongkok pada usia 10 hingga 39 tahun memiliki risiko kematian hanya 0,2 persen. Padahal, angka risiko kematian untuk masyarakat usia 80 tahun mencapai 21,9 persen.

Antibiotik tidak bisa menyembuhkan Coronavirus

WHO melalui situs resminya menyatakan bahwa tidak ada antibiotik yang efektif mencegah atau mengobati Coronavirus. Alasannya, antibiotik bekerja untuk melawan bakteri, bukan virus

Mereka mengakui ada beberapa obat-obatan modern dan tradisional yang bisa meredakan gejala Coronavirus tapi belum ada obat yang bisa benar-benar menyembuhkannya.

Beruntungnya, beberapa negara dikabarkan sedang dalam proses penelitian dan pengembangan vaksin untuk virus ini namun diprediksi butuh waktu hingga hampir setahun.

WHO sendiri tidak menganjurkan virus ini ditangani sendiri dengan sembarang obat. Masyarakat yang merasakan gejalanya untuk segera pergi ke dokter atau ahli medis.

Bagaimana cara agar kita tidak tertular Coronavirus?

Apa yang bisa dilakukan untuk terhindar dari Coronavirus selama vaksin atau obat dan terapinya belum ditemukan? 

Masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti berikut:

  1. Selalu mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun setelah memegang sesuatu terutama yang berada di tempat umum. WHO dan lembaga kesehatan lainnya menganjurkan mencuci tangan selama 20 detik
  2. Mencuci benda yang sering digunakan atau disentuh. Misalnya, smartphone termasuk benda yang kerap digenggam dan bersentuhan dengan wajah.
  3. Mengingat Coronavirus bisa menular melalui kontak dan cairan yang berasal dari batuk atau bersin maka diimbau mereka yang bepergian menggunakan masker baik sedang sakit maupun yang sehat. Karena tidak ada yang tahu apakah seseorang memiliki gejala Coronavirus. 
  4. Lakukan social distancing dan hindari keramaian atau pergi ke tempat umum apabila memang tidak memiliki kebutuhan yang mendesak, untuk membantu menekan penyebaran virus ini.
  5. Lansia bisa mengatur janji dengan dokter untuk membuat jadwal pengobatan penyakit bawaan yang lebih tepat. Jangan lupa minta stok obat dalam jumlah lebih banyak sehingga bisa mengurangi bepergian ke tempat umum atau rumah sakit yang berpotensi tertular penyakit lain maupun Coronavirus.

Dalam masa darurat Corona, penting untuk selalu mematuhi anjuran pemerintah dan para pakar kesehatan. Perlu digaris bawahi, COVID-19 adalah self-limiting disease, artinya tubuh kita dapat sembuh sendiri. 

Semakin kuat kita mempersiapkan tubuh kita, maka semakin kuat pula sistem imun kita dalam melawan virus Corona. Lakukanlah pola hidup bersih dan sehat kapan pun dan di mana pun walaupun pandemi ini sudah usai nantinya. 

Tidak ada yang lebih baik selain berinvestasi kesehatan untuk tubuh kita.

Pantau perkembangan situasi pandemi COVID-19 di Indonesia melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Baca Juga: Kenali Gejala COVID-19 Sebelum Terlambat

Reference

https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses

What is Social Distancing?

What is social distancing? Understanding the best tool to fight the coronavirus

https://nymag.com/intelligencer/2020/03/social-distancing-coronavirus-shut-down-schools-public-covid-19.html

https://www.vox.com/2020/3/15/21179296/coronavirus-covid-19-social-distancing-bored-pandemic-quarantine-ethics

https://www.forbes.com/sites/kenrapoza/2020/03/05/top-10-countries-outside-china-with-highest-number-of-coronavirus-cases/#5317317661bf

    register-docotr