Covid-19

Kenali Delirium, Gejala Baru COVID-19

December 12, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Pitoyo Marbun
feature image

Demam, batuk, kering, serta kelelahan merupakan beberapa gejala COVID-19. Akan tetapi, sebuah studi mengungkapkan gejala baru COVID-19, yakni delirium. Studi diterbitkan awal November dan dilakukan para peneliti dari Universitat Oberta de Catalunya (UOB), Spanyol.

Kesimpulan utama yang diambil dari penelitian tersebut yakni, delirium yang disertai demam bisa menjadi gejala awal COVID-19, seperti dikutip dari EurekAlert.

Baca juga: Bisa Deteksi COVID-19, Ini Efek Samping Nasal Swab yang Perlu Kamu Perhatikan

Apa itu delirium?

Javier Correa, salah satu peneliti dari UOC, mengatakan bahwa delirium adalah keadaan kebingungan di mana seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah-olah ia sedang bermimpi.

“Kita perlu waspada, terutama dalam situasi pandemi seperti ini, karena seseorang yang menunjukkan tanda-tanda kebingungan tertentu mungkin merupakan indikasi dari infeksi”, kata Javier Correa.

Sedangkan Mayo Clinic menjelaskan bahwa delirium adalah gangguan serius pada kemampuan mental yang mengakibatkan kebingungan dalam berpikir serta berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan.

Delirium mengakibatkan perubahan tiba-tiba pada fungsi mental seseorang, yang dapat mengganggu kemampuannya untuk berkonsentrasi, berpikir, mengingat, atau bahkan tidur.

Delirium gejala baru COVID-19. Foto:Nature

Penyebab delirium

Delirium dapat terjadi ketika pengiriman dan penerimaan sinyal normal di otak menjadi terganggu. Kondisi ini kemungkinan besar disebabkan oleh beragam faktor yang bisa memicu terjadinya malfungsi pada aktivitas otak.

Adapun beberapa penyebab dari delirium di antaranya adalah:

  • Kondisi medis tertentu, seperti stroke, serangan jantung, penyakit paru-paru atau hati yang memburuk, cedera akibat terjatuh
  • Toksisitas obat
  • Ketidakseimbangan metabolik, seperti jumlah natrium atau kalsium yang rendah
  • Penyakit kronis atau parah
  • Infeksi saluran kemih, pneumonia, atau bahkan flu, terutama pada lansia
  • Paparan zat beracun, seperti karbon monoksida, sianida, atau bahkan racun lainnya
  • Dehidrasi atau malnutrisi
  • Kurang tidur atau tekanan emosional yang parah.

Jenis delirium

Terdapat 3 jenis dari delirium, berikut adalah penjelasan dari masing-masing jenis.

  • Delirium hiperaktif: Jenis ini paling mudah untuk dikenali. Adapun beberapa tanda dari delirium hiperakif di antaranya adalah merasa gelisah, agitasi, perubahan suasana hati yang cepat, halusinasi, serta penolakan untuk bekerja sama.
  • Delirium hipoaktif: Jenis ini ditandai dengan berkurangnya aktivitas motorik, kelesuan, rasa kantuk yang parah, atau bahkan tampak linglung.
  • Delirium campuran: Jenis ini memiliki tanda yang termasuk dalam delirium hiperaktif dan hipoaktif. Seseorang dengan delirium campuran mungkin saja dapat dengan cepat beralih dari keadaan delirium hiperaktif ke hipoaktif.

Bagaimana biasanya delirium didiagnosis?

Diagnosis pada delirium biasanya meliputi memerhatikan gejala fisik dan psikologis. Adapun beberapa tes yang digunakan untuk mendiagnosis delirium di antaranya adalah:

  • Pemeriksaan mental: Kesadaran, perhatian, serta kemampuan berpikir adalah pemeriksaan awal yang dilakukan untuk mendiagnosis kondisi ini. Ini dapat dilakukan melalui percakapan, atau dengan tes maupun screening yang dapat menilai kondisi mental, persepsi, serta memori.
  • Pemeriksaan fisik dan neurologis: Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, serta memeriksa tanda-tanda masalah kesehatan lainnya yang mendasari. Sedangkan pada pemeriksaan neurologis, ini dapat meliputi pemeriksaan pada penglihatan, keseimbangan, koordinasi, serta refleks.
  • Pemeriksaan lain: Pemeriksaan tambahan mungkin saja dapat dilakukan, ini termasuk, pemeriksaan darah, urine, atau tes diagnostik lainnya. Jika diagnosis tidak dapat dibuat dengan informasi yang tersedia, tes pencitraan pada otak mungkin saja digunakan.

Baca juga: Waspadai Gejala Baru COVID-19 Hidung Kering: Ini Fakta & Update Risetnya

Delirium dan demensia

Delirium dan demensia mungkin sulit untuk dibedakan. Jika seseorang mengalami episode delirium, belum tentu berarti ia mengalami demensia.

Demensia sendiri merupakan penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir lainnya akibat disfungsi bertahap. Penyebab paling umum dari demensia adalah penyakit Alzheimer.

Berikut adalah beberapa perbedaan dari gejala delirium dan demensia.

  • Permulaan: Munculnya gejala delirium terjadi dalam waktu yang singkat, sedangkan demensia biasanya dimulai dengan gejala yang relatif ringan yang secara bertahap dapat memburuk seiring dengan waktu.
  • Kemampuan fokus: Kemampuan untuk tetap fokus atau mempertahankan perhatian dapat terganggu akibat delirium. Pada tahap awal demensia, seseorang biasanya tetap waspada atau dapat mempertahankan perhatian.
  • Fluktuasi: Munculnya gejala delirium dapat berfluktuasi secara signifikan. Sedangkan, seseorang dengan demensia, ingatan dan kemampuan berpikir tetap pada tingkat yang cukup tetap tidak berubah sepanjang hari

Itulah beberapa informasi mengenai delirium sebagai gejala baru COVID-19. Mengingat pertambahan kasus COVID-19 masih terus terjadi, untuk memutus mata rantai penyebaran, jangan lupa selalu menerapkan protokol kesehatan, ya.

Jika kamu memiliki pertanyaan lain seputar COVID-19. Kamu dapat berkonsultasi dengan kami melalui Aplikasi Good Doctor. Mitra Dokter kami siap membantumu dengan akses layanan 24/7. Jangan ragu untuk berkonsultasi, ya.

Reference

EurekAlert (2020). Diakses pada 11 Desember 2020. Delirium could be an early marker of COVID-19 

Mayo Clinic (2020). Diakses pada 11 Desember 2020. Delirium 

Medical News Today (2019). Diakses pada 11 Desember 2020. What to know about delirium 

    register-docotr