Covid-19

Jenis-jenis Tes COVID: Kelebihan, Kekurangan, dan Kisaran Biayanya

November 17, 2020 | Nik Nik Fadlah | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Tes COVID-19 adalah senjata utama untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi virus corona atau tidak. Di Indonesia sendiri, terdapat beberapa tes yang bisa dilakukan. Masing-masing tes memiliki kelebihan dan kelemahannya tersendiri.

Agar kamu lebih memahami mengenai jenis-jenis tes COVID beserta dengan kelebihan serta kelemahannya masing-masing, simak ulasan selengkapnya di bawah ini.

Baca juga: Jangan Keliru, Bagaimana Cara Membaca Hasil PCR dan Rapid Test?

Jenis-jenis tes COVID-19 yang tersedia

Sampai saat ini, penambahan kasus baru COVID-19 masih terus terjadi. Tes COVID-19 dimaksudkan untuk menentukan apakah terdapat infeksi virus corona di dalam tubuh atau tidak.

Rapid test dan PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah dua metode yang paling dikenal oleh masyarakat. Meskipun demikian, terdapat beberapa jenis-jenis tes COVID-19 lainnya yang juga tersedia, berikut adalah penjelasannya masing-masing.

Rapid test

Jenis-jenis tes COVID-19 pertama yang sudah diketahui oleh banyak orang adalah rapid test.

Rapid test adalah metode yang dilakukan dengan pengambilan sampel darah untuk mengetahui kondisi antibodi di dalam tubuh seseorang. Perlu kamu ketahui bahwa, antibodi diproduksi selama berhari-hari atau berminggu-minggu setelah paparan virus.

Rapid test digunakan untuk mendeteksi dua jenis antibodi yakni, IgG dan IgM. IgG (Immunoglobin G) adalah antibodi yang befungsi untuk melindungi dari infeksi bakteri dan virus. Sedangkan IgM (immunoglobin M) adalah antibodi pertama yang dibuat tubuh saat melawan infeksi baru.

Biaya untuk rapid test sendiri dimulai dengan harga Rp85.000 hingga Rp150.000, bergantung dari masing-masing tempat yang mengadakan rapid test.

Kelebihan

Untuk mengetahui hasil yang dikeluarkan oleh rapid test, hanya membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit. Kelebihan lain yang dimiliki oleh rapid test adalah teknologi yang digunakan sederhana serta biaya yang lebih murah dibandingkan dengan metode PCR.

Kekurangan

Kekurangan dari rapid test adalah metode ini tidak bisa digunakan untuk mendiagnosis COVID-19. Rapid test juga memiliki kelemahan lain yakni kurang akurat.

Seringkali bahkan rapid test menghasilkan hasil false positive. Ini berarti bahwa orang yang tidak terinfeksi virus corona bisa terdeteksi positif, dan begitu juga sebaliknya. Oleh karenanya, seseorang yang memiliki hasil positif dari rapid test, harus melakukan pemeriksaan lanjutan, yakni tes swab.

Jenis-jenis tes COVID: PCR (Polymerase Chain Reaction)

Jenis-jenis tes COVID selanjutnya yakni PCR (Polymerase Chain Reaction). Jika rapid test menggunakan sampel darah, maka berbeda dengan PCR atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai tes swab.

Metode untuk mendeteksi COVID-19 ini, menggunakan sampel lendir yang diambil dari dalam tenggorokan dan/atau hidung.

Pengujian PCR dilakukan di lab yang dilakukan dengan cara memperkuat materi genetik virus ke tingkat yang dapat dideteksi. Biasanya metode ini menggunakan swab yang dimasukkan ke dalam hidung atau tenggorokan seseorang.

Kelebihan

Melansir dari FDA.gov, PCR memiliki tingkat keakuratan yang tinggi dan hasilnya biasanya tidak perlu diulang. Metode ini digunakan untuk mendiagnosis infeksi corona yang masih aktif.

Nantinya hasil akhir dari metode ini akan memperlihatkan jika terdapat virus COVID-19 di dalam tubuh seseorang. PCR adalah metode yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO).

Kekurangan

Untuk mengetahui hasil yang dikeluarkan oleh PCR, biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni beberapa jam hingga beberapa hari.

Selain itu, karena PCR merupakan ‘gold standard’ untuk mendeteksi COVID-19 dan memiliki keakuratan yang tinggi, maka biaya untuk melakukan tes ini pun lebih mahal dibandingkan dengan rapid test.

Untuk biayanya sendiri, pemerintah telah menetapkan batas maksimal harga PCR yakni sebesar Rp900.000.

Baca juga: Penting! Ini Perbedaan PCR Test dan Rapid Test COVID-19 yang Mesti Kamu Tahu

Tes cepat molekuler (TCM)

Tes cepat molekuler (TCM) adalah metode yang sebelumnya digunakan untuk mendiagnosis tuberkulosis (TB). Berbeda dengan jenis-jenis tes COVID yang sudah dijelaskan sebelumnya, metode ini menggunakan sampel dahak dengan amplifikasi asam nukleat berbasis cartridge.

Cartridge sendiri adalah salah satu komponen dalam mesin tes yang memiliki peran untuk melacak keberadaan antigen virus corona di dalam cairan spesimen.

Untuk memastikan soal biaya, kamu bisa bertanya langsung kepada fasilitas kesehatan yang sudah menyediakan tes TCM.

Kelebihan

TCM memiliki sensitivitas yang cukup tinggi, yakni sebesar 95 persen. Tak hanya memiliki sensitivitas yang tinggi saja, hasil yang dikeluarkan TCM pun tergolong cepat, yakni kurang dari dua jam.

Kelemahan

Indonesia sendiri sebenarnya sudah memiliki alat pemeriksaan untuk melakukan tes ini, akan tetapi ketersediaan cartridge dan layanannya masih terbatas.

Jenis-jenis tes COVID: Tes antigen

Melansir Kompas.com, pada beberapa waktu lalu WHO telah menyetujui penggunaan tes antigen untuk digunakan di negara yang memiliki jumlah tes PCR yang rendah.

Rapid test antigen adalah metode yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan antigen dalam sampel dari saluran pernapasan.

Antigen yang terdeteksi hanya dapat dilihat jika virus bereplikasi secara aktif. Oleh karenanya, tes ini paling bagus digunakan untuk mengidentifikasi infeksi dini.

Untuk biayanya sendiri, tes antigen memiliki biaya yang lebih murah dibandingkan dengan tes PCR. Biaya sangat bergantung pada masing-masing rumah sakit atau fasilitas kesehatan.

Kelebihan

Untuk mengetahui hasil tes antigen, waktu yang dibutuhkan tergolong cepat, yakni sekitar 15-30 menit. Tes antigen memiliki tingkat keakuratan yang lebih baik dibandingan dengan rapid test antibodi.

Kekurangan

Melansir dari Reuters, Food and Drug Administration (FDA) pada beberapa waktu lalu memberikan peringatan kepada staf laboratorium klinis dan penyedia layanan kesehatan bahwa hasil positif palsu (false positive) dapat terjadi pada tes antigen COVID-19.

Hasil positif palsu dapat terjadi jika petunjuk penggunaan tes antigen untuk deteksi cepat COVID-19 tidak diikuti dengan baik.

Nah, itulah beberapa informasi mengenai jenis-jenis tes COVID yang tersedia. Mengingat kasus COVID-19 masih tergolong tinggi, maka dari itu, melakukan deteksi dini gejala COVID-19 merupakan hal yang penting dan jangan lupa juga selalu patuhi protokol kesehatan, ya.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar info sehat lainnya? Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

CNNIndonesia.com (2020). Diakses pada 09 November 2020. Pemerintah Sebut Tes Cepat Molekular Lebih Kilat dari PCR 

Kementrian Keuangan RI. Diakses pada 09 November 2020. Beda Rapid Test, SWAB, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona 

Kids Health (2020). Diakses pada 09 November 2020. Blood Test: Immunoglobulins (IgA, IgG, IgM) 

Kompas.com (2020). Diakses pada 09 November 2020. Ini Arti serta Perbedaan antara Rapid Test dan Tes Swab 

Kompas.com (2020). Diakses pada 09 November 2020. Batas Tertinggi PCR Ditetapkan, Tarif Rp 900.000 Termasuk Apa Saja? 

Kompas.com (2020). Diakses pada 09 November 2020. Tes Antigen Covid-19 Disetujui WHO, Pakar Desak Pemerintah Agresif 

Public Health Ontario. Diakses pada 09 November 2020. Conducting COVID-19 PCR Testing at PHO 

The Conversation (2020). Diakses pada 09 November 2020. Memahami cara kerja rapid test COVID-19 yang hasilnya bisa tidak akurat 

Reuters (2020). Diakses pada 09 November 2020. U.S. FDA warns about false positive results from COVID-19 antigen tests 

U.S Food & Drug. Diakses pada 09 November 2020. Coronavirus Disease 2019 Testing Basics 

World Health Organization. Diakses pada 09 November 2020. Advice on the use of point-of-care immunodiagnostic tests for COVID-19 

    register-docotr