Covid-19

Gejala Awal COVID-19 Muncul Berurutan Diawali dengan Demam dan Batuk, Benarkah?

October 22, 2020 | Nanda Hadiyanti | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Ada beberapa gejala awal corona yang umum ditunjukkan oleh pasien positif COVID-19. Dilansir dari situs WHO, tiga gejala COVID-19 tersebut adalah demam, batuk kering dan kelelahan. Kemudian diikuti gejala seperti nyeri badan, hidung tersumbat, sakit tenggorokan dan diare.

Namun tahukah kamu, peneliti Amerika Serikat melakukan sebuah studi dan menemukan bahwa gejala COVID-19 memiliki urutan tertentu dari kali pertama muncul?

Mengenali gejala awal corona

Seperti yang sudah disebutkan di atas, terdapat berbagai gejala dari pasien yang terinfeksi virus corona. Selain yang sudah disebutkan, beberapa juga terkadang menunjukkan gejala hilangnya kemampuan indra penciuman dan perasa, ruam kulit dan perubahan warna pada jari tangan dan kaki.

Sementara itu, agar lebih mudah mengenali COVID-19, peneliti dari University of Southern California (USC) berhasil menentukan bahwa gejala COVID-19 seringkali dimulai dari urutan tertentu.

“Urutan ini sangat penting untuk diketahui ketika kita memiliki siklus penyakit yang tumpang tindih seperti flu, mirip dengan infeksi COVID-19,” kata Peter Kuhn , PhD, salah satu peneliti dari USC, seperti dilansir dari Healthline.

Dengan melihat urutan tersebut, dokter dapat mengenali COVID-19 lebih cepat dan dapat menentukan langkah perawatan sesegera mungkin. Ini bertujuan mencegah kondisi pasien memburuk akibat infeksi virus corona.

Ciri-ciri terkena corona berdasar urutan munculnya gejala

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari USC, gejala COVID-19 akan muncul berurutan dalam empat tahap. Diawali dengan demam dan diakhiri dengan diare. Berikut ciri-ciri terkena corona berdasar tahapannya:

  1. Demam
  2. Batuk dan nyeri otot
  3. Mual atau muntah
  4. Diare

Tahapan tersebut didapat setelah menganalisis data dari WHO, berupa lebih dari 55.000 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di Tiongkok.

Selain itu peneliti juga menganalisis kumpulan data dari kelompok perawatan medis Tiongkok untuk COVID-19 dan yang disediakan oleh Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok.

Data tersebut berjumlah hampir 1.100 kasus, yang dikumpulkan antara Desember dan Januari lalu. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan urutan gejala influenza.

Joseph Larsen, penulis utama penelitian dari USC mengatakan bahwa penting untuk mengetahui urutan ciri-ciri terkena corona. Dengan melihat perkembangan gejala, dokter akan lebih cepat mengidentifikasi satu penyakit.

Fakta tentang gejala COVID-19 yang muncul

Meski penelitian mengenai urutan tersebut telah dipublikasikan sejak 13 Agustus 2020 lalu, pada kenyataannya tidak semua pasien COVID-19 selalu menunjukkan pola gejala demam, batuk dan nyeri otot, mual atau muntah dan diare.

“Faktanya beberapa pasien mungkin datang hanya dengan hilangnya rasa atau bau dan justru merasa sehat,” kata dr. Robert Glatter seorang dokter di Rumah Sakit Lenox Hill, New York, Amerika Serikat.

Dokter tersebut juga mengatakan bahwa dia melihat gejala chilblains sebagai gejala awal pada pasien COVID-19. Chilblains adalah perubahan warna biru kemerahan sebagai tanda reaksi peradangan akut, tanpa demam atau gejala pernapasan lain, yang terlihat di tangan atau kaki pasien.

Lebih dari itu, gejala awal corona juga lebih bervariasi. Ada juga yang datang dengan gejala corona ringan seperti pegal-pegal tanpa alasan yang jelas, mengeluhkan gejala menyerupai gejala stroke hingga sakit kepala atau pusing.

Tetap waspada dengan variasi gejala COVID-19

Meski gejala awal COVID-19 bervariasi, bahkan ada pasien lainnya yang mengeluhkan nyeri dada sebagai gejala awal, hasil penelitian juga tetap bisa dijadikan acuan. Ini karena ada juga yang menunjukkan gejala yang sama dengan urutan hasil studi, yakni dengan gejala awal corona berupa demam.

Petugas medis tetap harus waspada dengan gejala awal corona, apapun yang dikeluhkan pasien. “Ini juga menggarisbawahi pentingnya memakai masker dan kebersihan tangan saat mengamati gejala pasien,” kata Glatter.

Untuk lebih mewaspadai penularan COVID-19, selain mengetahui gejala awal corona yang umum terjadi, kamu juga perlu mengetahui variasi gejala, seperti gejala corona pada anak hingga corona tanpa gejala. 

Gejala corona pada anak

Pada orang dewasa, gejala awal corona yang umum terjadi adalah demam, batuk kering dan kelelahan. Sementara dilansir dari theguardian, gejala corona pada anak yang paling umum adalah adalah kelelahan, sakit kepala dan demam. 

Hanya sedikit anak yang mengalami batuk atau kehilangan indra perasa dan penciuman sebagai gejala awal corona. Biasanya gejala corona ringan seperti kelelahan, sakit kepala dan demam pada anak dapat disembuhkan. 

Namun setelahnya, anak bisa menunjukkan kondisi lain yang disebut sindrom inflamasi multisistem pada anak atau multisystem inflammatory syndrome in children (MISC). Di Amerika Serikat, anak-anak yang mengalami MIS-C sudah lebih dari 1000 kasus.

Para ahli belum bisa memastikan kaitan antara COVID-19 dan MIS-C, namun orang tua sebaiknya waspada dengan kondisi ini. Untuk lebih mengenal MIS-C, dilansir dari health.harvard.edu, berikut ciri-ciri umum MIS-C:

  • Demam tinggi
  • Ruam kulit
  • Konjungtivitis atau merah pada bagian putih mata
  • Sakit perut, muntah atau diare
  • Bengkaknya kelenjar getah bening
  • Bibir pecah-pecah
  • Lidah lebih merah dari biasanya

Jika anak menunjukkan gejala corona maupun MIS-C, sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat. Meski umumnya anak hanya mengalami gejala corona ringan, namun dapat berkembang menjadi MIS-C dan menjadi kondisi yang lebih serius.

Pada beberapa kasus, anak yang mengalami MIS-C mengalami efek jangka panjang berupa kelainan jantung. Kelainan itu termasuk pelebaran pembuluh darah koroner dan penurunan kemampuan jantung memompa darah beroksigen ke tubuh.

Sayangnya, studi tentang MIS-C masih terbatas untuk menindaklanjuti temuan tersebut.

Corona tanpa gejala

Satu lagi kondisi yang perlu diwaspadai oleh masyarakat umum dan petugas medis adalah corona tanpa gejala. Kondisi tersebut juga dikenal dengan istilah asimtomatik.

Corona tanpa gejala (OTG) adalah kondisi di saat seseorang mungkin terinfeksi COVID-19 namun tidak menunjukkan gejala awal corona seperti demam, batuk atau sesak napas. Walaupun positif COVID-19, orang tersebut tidak langsung menunjukkan gejala secepat pasien lainnya. 

Di sinilah perbedaan gejala pasien umum dan gejala covid pada OTG. Jika pasien umumnya menunjukkan gejala 1-14 hari setelah terpapar virus, gejala covid pada OTG muncul lebih lama. 

Dengan kata lain corona tanpa gejala bukan berarti tidak menunjukkan gejala sama sekali, tapi berdasar laman RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, corna tanpa gejala baru akan menunjukkan gejalanya sekitar 0-24 hari setelah seseorang terpapar virus. 

Secara umum gejala covid pada OTG yaitu:

  • Demam
  • Batuk kering
  • Lemas
  • Sesak napas

Walaupun gejala pada OTG lebih lama terlihat, jika sudah dalam kondisi positif COVID-19, orang tersebut tetap bisa menularkan virus ke orang lain. 

Gejala khas lain yang perlu diperhatikan

Di Amerika Serikat, pandemi COVID-19 masih berlangsung seperti di banyak negara lain. Dikhawatirkan kondisi akan semakin buruk mendekati musim gugur, di mana biasanya akan memasuki waktu flu musiman.

Oleh karena itu, Glatter mengatakan bahwa selain menjadikan demam sebagai gejala umum dari COVID-19, perlu dipahami bahwa ada chillblains dan kehilangan indra penciuman sebagai gejala khas lainnya.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Reference

Healthline, diakses 14 Oktober 2020
COVID-19 Symptoms Usually Show Up in This Order
COVID19.go.id, diakses 14 Oktober 2020
Tanya Jawab COVID-19
WHO, diakses 14 Oktober 2020
Q&A on coronaviruses (COVID-19)
Frontiers in Public Health, diakses 14 Oktober 2020
Modeling the Onset of Symptoms of COVID-19

    register-docotr