Covid-19

Fakta-fakta Mutasi Virus Corona D614G: 10 Kali Lebih Mudah Menular

August 22, 2020 | Ajeng Dwiri Banyu | dr. Debby Deriyanthi
feature image

Jenis tertentu dari virus corona tampaknya telah menyebabkan wabah terbaru yang ditemukan di Asia Tenggara. Mutasi virus corona SARS-CoV-2 yang disebut dengan D614G ini diketahui memiliki tingkat penularan lebih tinggi dibandingkan jenis sebelumnya.

Perlu diketahui, Malaysia sudah mendeteksi keberadaan strain terbaru ini dengan ditemukannya 45 kasus. Salah satu kasusnya sendiri berasal dari seseorang yang melakukan perjalanan ke India dan tidak mengikuti aturan karantina saat kembali.

Baca juga: Sudah Datang dari Tiongkok, Indonesia Siap Uji Klinis Vaksin Corona Sinovac

Beberapa fakta mutasi corona D614G yang perlu diketahui

Mengutip Webmd, D614G telah menjadi jenis umum ditemukan di seluruh dunia, namun belum ada bukti jelas bahwa mutasi semakin menular dan menyebabkan penyakit parah.

Meski begitu, laporan WHO menyebutkan jika mutasi dapat menghambat kemanjuran vaksin.

Mutasi corona yang disebut D614G dideteksi paling awal terjadi pada Februari 2020 dan telah beredar di Eropa dan Amerika. Dikumpulkan dari berbagai sumber, berikut ini beberapa fakta-fakta mutasi corona D614G.

Lebih menular dari jenis sebelumnya

Dikutip dari CNN Indonesia, berdasarkan penelitian dari Scripps Research Institute, Florida, Amerika Serikat, mutasi ini 10 kali lebih menular dari jenis sebelumnya. Selain itu, varian D614G ini pada dasarnya menggantikan strain virus D614 yang telah diidentifikasikan sebelumnya.

Strain baru biasanya jarang terjadi di luar Eropa sebelum 1 Maret, namun pada akhir bulan telah menunjukkan tanda-tanda penularan secara luas di tengah masyarakat.

Alasan utama kecepatan penularan D614G adalah karena virus bermutasi atau bereplikasi lebih cepat di saluran pernapasan bagian atas dalam tubuh.

Dalam dua studi yang diterbitkan di Cell oleh Dr. Korber dan dua studi oleh WHO Collaborating Center di China, memberikan hasil bahwa D614G tampaknya 10 kali lebih menular. Namun, perlu diketahui juga jika varian mutasi corona ini tidak meningkatkan keparahan kasus. 

Jenis mutasi dominan di dunia

Sejak mutasi D614G pertama kali dideteksi di Eropa, sejak itu pula menjadi jenis paling dominan di dunia. Dr. Bette Korber beserta ahli biologi komputasi dan ahli genetika populasi mengatakan jika varian D614G tampak dominan termasuk di Cina.

Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan penyebarannya lebih baik di antara manusia daripada versi aslinya. Dapat disimpulkan jika setiap kali dua versi ini beredar pada saat yang sama, maka varian baru akan segera mengambil alih.

Untuk itulah, varian D614G bisa begitu dominan hingga kini menjadi pandemi dan ditemukannya puluhan kasus di Malaysia. Nah, dari sinilah perlu diketahui bahwa mutasi ini tidak netral dan tidak serta merta mengubah cara berpikir tentang virus ataupun penyebarannya. 

Memengaruhi keefektifan vaksin

Ketika virus corona baru terus berkembang biak dan menyebar ke seluruh dunia, para peneliti akan melacak mutasi tersebut untuk memastikan perubahan virus tidak memengaruhi vaksin.

Ilmuwan dan peneliti kesehatan seluruh dunia sedang mengeksplorasi berbagai metode untuk penyelidikan terhadap virus.

Para peneliti yang mempelajari virus tersebut menemukan bahwa genom sangat rentan terhadap mutasi yang menyebabkan pergeseran genetik dan lolos dari pengenalan kekebalan.

Selain itu, ilmuwan yang melakukan penelitian juga mencatat bahwa munculnya varian ini dapat memengaruhi pengembangan vaksin dan perawatan antibodi.

Akan tetapi, para ahli di Cina menuturkan jika suatu galur tertentu akan membentuk galur baru jika lebih dari 20 persen informasi genetiknya bermutasi. Hal inilah yang kemudian menyebabkan vaksin kehilangan keefektifannya, namun kemungkinannya kecil.

Baca juga: Studi Membuktikan, Makanan Fermentasi Kimchi Bisa Turunkan Risiko COVID-19

Tingkatkan risiko kematian

Meski tidak menyebabkan keparahan kasus, namun mutasi D614G ini meningkatkan risiko kematian.

Meski belum ada bukti adanya peningkatan keparahan Covid-19, namun sebuah penelitian menggunakan pohon filogenetik lebih dari 4000 genom virus corona telah mengklaim bahwa D614G lebih ganas dan dikaitkan dengan kematian.

Fakta inilah yang mengharuskan lebih banyak penelitian lanjutan untuk mengetahui dampak mutasi virus terhadap penyakit, penularan, vaksin, dan perkembangan teraupetik lainnya.

Kesadaran terhadap kesehatan juga tetap harus dilakukan oleh semua masyarakat guna menghadapi kemunculan mutasi baru lainnya. 

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia diharuskan untuk tetap waspada terlebih sudah ada kasus yang terdeteksi di negara tetangga Malaysia. Berbagai protokol kesehatan tetap harus dipatuhi untuk mencegah terjadi penularan virus, termasuk mutasi corona D614G ini.

Informasi mengenai Covid-19 lainnya bisa ditanyakan pada dokter kami di Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
  1. Webmd (2020), diakses pada 19 Agustus 2020. Coronavirus Mutation Has Spread Worldwide
  2. CNN Indonesia (2020), diakses pada 19 Agustus 2020. Fakta Mutasi Virus Corona D614G, Tak Mempan Pakai Vaksin
  3. Cgtn.com (2020), diakses pada 19 Agustus 2020. New evidence shows D614G increases infectivity of COVID-19 virus
  4. Timenownews.com (2020), diakses pada 19 Agustus 2020. Coronavirus D614G mutation: Will it impact COVID-19 vaccine’s efficacy? Here’s what experts say
  5. Medical Life Sciences (2020), diakses pada 19 Agustus 2020. D614G Mutation
  6. The Times of India (2020), diakses pada 19 Agustus 2020. Ten times more infectious than Coronavirus: All you need to know about D614G
    register-docotr