Covid-19

Benarkah Vaksin COVID-19 Pfizer Sebabkan Bell’s Palsy?

December 18, 2020 | Arianti Khairina
feature image

Jumlah pasien positif COVID-19 hingga kini terus meningkat. Oleh sebab itu adanya vaksin tentu menjadi kabar baik bagi seluruh masyarakat Indonesia. Salah satunya dengan adanya vaksin Pfizer, tapi apakah benar justru menyebabkan Bell’s Palsy? 

Apa itu vaksin Pfizer? 

Melansir penjelasan dari laman Centers for Disease Control and Prevention, vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 adalah vaksin mRNA yang diformulasikan dengan nanopartikel lipid.

Dimodifikasi nukleosida yang mengkode glikoprotein lonjakan prefusi dari SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan penyakit coronavirus 2019 (COVID-19).

Pertimbangan klinis CDC ini diinformasikan oleh ikon data eksternal yang dikirimkan ke Food and Drug Administration for Emergency Use Authorization (EUA) vaksin, sumber data lain, pedoman praktik terbaik umum untuk imunisasi, dan pendapat ahli. 

Selain pertimbangan berikut, ketentuan EUA untuk penggunaan ikon eksternal dan penyimpanan, penanganan, dan prosedur administrasi yang dijelaskan dalam informasi peresepan ikon eksternal harus dirujuk saat menggunakan vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19.

Benarkah vaksin Pfizer sebabkan Bell’s Palsy? 

Dilansir dari laman USA Today, penyebaran vaksin dimulai pada tanggal 14 Desember 2020. Sementara munculnya vaksin, menandai berakhirnya pandemi hampir setahun, beberapa di media sosial menyuarakan keprihatinan.

Namun beredar kabar bahwa empat sukarelawan vaksin Pfizer (untuk COVID-19) justru malah mengalami Bell’s palsy.

Penjelasan tentang Bell’s palsy itu sendiri adalah suatu kondisi yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan pada otot wajah.

Postingan tersebut mengklaim bahwa efek sampingnya dianggap sebagai reaksi ‘tidak serius’ meskipun gambarnya mengkhawatirkan, termasuk tiga individu dengan ekspresi wajah miring.

Pembaca didorong untuk mengkonfirmasi temuan itu sendiri dengan mengikuti tautan ke “tinjauan FDA.gov” yang disediakan di bagian bawah laman tersebut. 

Kemudian, keadaan kembali normal setelah tiga hari. Tiga orang sukarelawan vaksin lain mengalami kelumpuhan otot wajah setelah 9-48 hari pasca penyuntikan. Keluhan berangsur membaik setelah hari ke-10.

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti bagaimana vaksin COVID-19 dapat menimbulkan efek samping seperti Bell’s Palsy.

Melansir dari FDA Briefing dari laman USA Today, meskipun database keamanan terungkap adanya ketidakseimbangan kasus Bell’s palsy (4 dalam kelompok vaksin dan tidak ada dalam kelompok plasebo), hubungan sebab akibat kurang pasti karena jumlah kasusnya sedikit. 

Baca juga: Wajib Tahu, Begini Cara Kerja Vaksin COVID-19 Pada Tubuh

Keterkaitan Bell’s Palsy dan vaksin COVID-19 

Melansir penjelasan USA Today, Bell’s palsy kemungkinan besar tidak terkait dengan vaksin.

Pusat Evaluasi dan Penelitian Biologi FDA mengadakan pertemuan ke-162 dari Vaksin dan Komite Penasihat Produk Biologi Terkait untuk membahas otorisasi penggunaan darurat vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19.

Sebuah pengarahan mencatat bahwa ada empat kasus Bell’s palsy di antara kelompok yang divaksinasi dan tidak ada di antara kelompok plasebo. 

Gejala terjadi pada titik waktu yang berbeda, untuk satu peserta, kondisi terjadi tiga hari setelah vaksinasi tetapi sembuh dalam tiga hari.

Lalu untuk tiga lainnya, gejala muncul pada hari ke sembilan, 37 dan 48 hari setelah vaksinasi dan berlangsung masing-masing selama sekitar 10, 15 dan 21 hari.

Hingga kini belum jelas mengapa empat peserta mengalami Bell’s palsy dan sedikit yang diketahui tentang apa sebenarnya penyebab kondisi tersebut. Satu teori yang berlaku adalah bahwa virus herpes simpleks mungkin menjadi penyebabnya.

HSV datang dalam dua jenis, tergantung pada jalur penularan – oral untuk HSV-1 dan kelamin, atau menular seksual, untuk HSV-2. Ini adalah HSV-1 yang mungkin bersembunyi jauh di dalam saraf wajah dalam bentuk yang tidak aktif, hanya aktif ketika inang manusianya berada di bawah tekanan. 

Aktivasi virus menyebabkan infeksi dan kerusakan pada saraf wajah lokal, mengakibatkan wajah terkulai atau kelemahan otot.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

register-docotr