Kehamilan

Apa Itu Pengapuran Plasenta? Ini Penyebab dan Gejalanya!

December 20, 2020 | Fitri Chaeroni
feature image

Pengapuran plasenta atau placental calcification adalah salah satu kondisi yang terjadi pada plasenta atau ari-ari selama kehamilan. Meski terdengar menyeramkan, kondisi yang juga disebut dengan kalsifikasi plasenta ini bukanlah sebuah penyakit atau gangguan medis.

Untuk mengetahui lebih banyak soal pengapuran plasenta, Moms bisa simak ulasan di bawah ini!

Apa itu pengapuran plasenta?

Pengapuran plasenta adalah pengendapan mineral kalsium-fosfat di jaringan plasenta. Kondisi ini terjadi selama proses kehamilan berjalan.

Banyak peneliti menganggap kalsifikasi plasenta sebagai proses penuaan yang normal, bukan menjurus terkait penyakit tertentu.

plasenta biasanya digambarkan akan melalui empat tingkat, dari 0 (paling dewasa) ke III (paling matang). Perkembangan plasenta mulai dari tingkat nol pada awal kehamilan.

Perubahan bisa dilihat dari 12 minggu dan seterusnya. Saat kehamilan berlanjut, plasenta menjadi matang dan mengeras.

Apakah kalsifikasi plasenta berpengaruh pada proses melahirkan?

Para ahli tampaknya memiliki pendapat berbeda tentang pentingnya plasenta yang mengalami kalsifikasi saat melahirkan karena kurangnya bukti yang meyakinkan.

Beberapa perubahan plasenta selama akhir kehamilan dianggap sebagai bagian normal dari kehamilan dan tidak dianggap sebagai perhatian.

Namun, dalam kasus di mana perubahan terjadi lebih awal dari yang diharapkan, ada beberapa ketidaksepakatan mengenai signifikansinya.

Jenis-jenis atau tahapan pengapuran plasenta

Jenis pengapuran plasenta dibagi menjadi beberapa kategori berdasarkan waktu terjadinya. Berikut penjelasannya.

1. Perubahan antara minggu 28 dan 36 kehamilan

Kalsifikasi plasenta sebelum 32 minggu kehamilan disebut “kalsifikasi plasenta dini prematur”. Hal ini diketahui terkait dengan risiko komplikasi kehamilan dan kelahiran yang lebih tinggi, seperti:

  • Perdarahan hebat setelah lahir atau perdarahan postpartum
  • Solusio plasenta
  • Bayi prematur
  • Memiliki bayi dengan skor Apgar rendah
  • Kelahiran mati.

2. Perubahan pada lebih dari 36 minggu

Satu penelitian menunjukkan bahwa memiliki plasenta derajat III pada minggu ke-36 dikaitkan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi terkait kehamilan dan memiliki bayi dengan berat lahir rendah.

3. Perubahan antara minggu kehamilan ke 37 hingga 42

Plasenta kalsifikasi derajat III dari 37 minggu dan seterusnya ditemukan pada sekitar 20 hingga 40 persen kehamilan normal. Namun, hal itu dianggap memiliki signifikansi klinis yang kecil.

Efek dari plasenta yang mengalami kalsifikasi mungkin perlu dievaluasi kasus per kasus, bergantung pada:

  • Seberapa awal perubahan terlihat
  • Seberapa parah kondisinya
  • Apakah itu kehamilan berisiko tinggi atau tidak.

Penyebab pengapuran plasenta

Penyebab pasti dari kalsifikasi plasenta masih belum diketahui. Namun kondisi ini lebih umum terjadi pada:

  • Perempuan yang lebih muda
  • Wanita yang hamil untuk pertama kali
  • Wanita yang merokok saat hamil.

Ciri-ciri dan gejala pengapuran plasenta

Kondisi ini biasanya tidak menimbulkan gejala. Dulu pengapuran plasenta baru teridentifikasi setelah lahir ketika plasenta diperiksa secara fisik oleh dokter atau bidan.

Kalsifikasi plasenta diketahui dengan ditemukannya endapan kalsium putih kecil yang terasa keras seperti batu.

Namun kini kondisi ini dapat diidentifikasi menggunakan teknologi grafik sonar 3D. Karena tidak menimbulkan gejala, maka Moms bisa berkonsultasi dengan dokter untuk melakukan peninjauan.

Risiko kalsifikasi plasenta

Endapan kalsium pada plasenta akibat proses kalsifikasi dapat menyebabkan bagian dari plasenta mati atau digantikan dengan jaringan fibrosa yang justru dapat berdampak negatif pada plasenta.

Penumpukan kalsium ini juga dapat meningkatkan risiko pembekuan darah di plasenta dan memperlambat aliran darah ke bayi.

Untungnya, komplikasi akibat pengapuran plasenta hampir tidak ada, dan dalam banyak kasus tidak berbahaya bagi bayi.

Cara mencegah pengapuran plasenta

Karena penyebab pastinya juga belum diketahui secara pasti, maka cara mencegah pengapuran plasenta juga masih belum pasti.

Namun ada beberapa hal yang mungkin bisa Moms lakukan sebagai tindakan preventif:

  • Jika usia kehamilan kamu sudah di atas 37 minggu, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
  • Pastikan kamu mengonsumsi asupan kalsium harian sesuai rekomendasi. 
  • Kalsium harian juga bisa kamu dapat dari makanan lho, jadi selain membatasi suplemen, awasi juga apa yang kamu konsumsi.
  • Kamu akan lebih berisiko mengalami pengapuran plasenta jika memiliki riwayat darah tinggi atau diabetes, maka dari itu penting untuk menjaga pola hidup agar tidak memicu 2 kondisi tersebut terjadi.

Konsultasikan masalah kesehatan Moms dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference

NCBI. Diakses pada 10 Desember 2020. Placental Vascular Calcification and Cardiovascular Health: It Is Time to Determine How Much of Maternal and Offspring Health Is Written in Stone

Parenting Firstcry. Diakses pada 10 Desember 2020. Calcification of Placenta in Pregnancy

Baby Center. Diakses pada 10 Desember 2020. Ageing or calcification of the placenta

News24. Diakses pada 10 Desember 2020. What is placenta calcification?

    register-docotr