Kehamilan

Memahami IUFD: Kondisi Kematian Janin dalam Kandungan

November 10, 2020 | Anisya Fitrianti | dr. Raja Friska Yulanda
feature image

Pernahkah Moms mendengar istilah IUFD? IUFD atau Intrauterine Fetal Death adalah istilah kematian bayi di dalam rahim atau bayi lahir meninggal. Kondisi IUFD dapat terjadi pada siapa saja, tapi ada beberapa orang yang memiliki risiko lebih tinggi.

Supaya lebih paham, kenali penyebab dan cara menurunkan risiko terjadinya IUFD dalam ulasan berikut ini, yuk!

Mengenal apa itu IUFD?

Secara umum, IUFD atau lahir mati biasanya dikategorikan pada janin yang telah memasuki usia 20 minggu atau lebih. Berat badan janin juga biasanya sudah mencapai 500 gram atau lebih. Pada usia janin yang lebih muda, kehilangan janin biasanya disebut sebagai keguguran. 

Dalam perawatan medis, kondisi IUFD dan keguguran akan diperlakukan berbeda. Orang tua yang mengalami IUFD akan menerima akta kelahiran dan akta kematian, sedangkan orang tua yang mengalami keguguran tidak akan menerima akta.  

Berdasarkan data dari WHO, di tahun 2015 ada 2,6 juta bayi lahir mati secara global, dengan angka kematian yang mencapai 7.178 sehari. Kasus IUFD cenderung lebih sering terjadi di negara berkembang, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Penyebab terjadinya IUFD

Hampir setengah dari kelahiran mati terjadi saat melahirkan. Penyebabnya terkadang tidak dapat diketahui. Namun penyebab utama IUFD dapat meliputi:

  • Cacat lahir bawaan
  • Kelainan genetik
  • Adanya disfungsi plasenta yang menyebabkan hambatan pertumbuhan janin
  • Komplikasi tali pusat
  • Uterus pecah
  • Gangguan plasenta lainnya 
  • Infeksi ibu saat kehamilan (seperti penyakit malaria, sifilis dan HIV)
  • Gangguan kondisi kesehatan ibu (terutama hipertensi, obesitas dan diabetes)

Baca juga: Keguguran Tanpa Pendarahan, Apa Mungkin? Ini Dia Penjelasannya! 

Siapa yang berisiko mengalami IUFD?

Beberapa kelompok wanita lebih berisiko mengalami kondisi bayi lahir mati. Meski sebagian faktor tidak dapat dikendalikan, tetapi masih ada beberapa faktor yang dapat dikendalikan, di antaranya:

Kondisi kesehatan ibu

Penyakit tertentu dapat meningkatkan risiko bayi lahir mati. Termasuk di antaranya seperti penyakit hipertensi, diabetes, lupus, penyakit ginjal, gangguan tiroid, dan trombofilia. Kebiasaan merokok, minum alkohol dan kondisi obesitas juga dapat meningkatkan risiko IUFD. 

Usia 

Penting diingat, wanita yang berusia lebih dari 35 tahun lebih cenderung mengalami bayi lahir mati tanpa sebab yang jelas bila dibandingkan wanita yang lebih muda.

Riwayat kekerasan fisik dan mental

Tidak dapat dipungkiri, kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi terutama di wilayah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Kondisi ini akan menyebabkan risiko yang lebih besar bagi ibu dan janin mengalami IUFD. 

Memiliki riwayat gangguan kehamilan

Wanita dengan riwayat gangguan kehamilan seperti pertumbuhan janin yang terhambat dan kelahiran prematur, memiliki IUFD lebih besar pada kehamilan berikutnya. 

Kemudian wanita yang pernah mengalami IUFD sebelumnya memiliki kemungkinan dua hingga 10 kali lebih besar untuk mengalaminya kembali.

Kehamilan bayi kembar

Mengandung lebih dari satu bayi disebut-sebut juga meningkatkan risiko IUFD.Maka dari itu, wanita yang menjalani fertilisasi in vitro (IVF), sering direkomendasikan agar satu embrio dipindahkan per siklus untuk mengurangi kemungkinan IUFD.

Cara penanganan IUFD 

Tanda dari lahir mati yang paling umum adalah saat ibu tidak lagi merasakan bayinya bergerak. Dokter dapat mengetahuinya lewat pemeriksaan dengan alat doppler.

Bila dokter kemudian menyatakan kondisi bayi sudah mati di dalam kandungan, biasanya dokter akan merekomendasikan dua cara, seperti:

  • Menunggu persalinan terjadi secara alami dalam satu atau dua minggu
  • Mendorong persalinan dengan obat sehingga dapat terjadi lebih cepat

Setelah menjalani proses persalinan, wanita umumnya akan mengalami pembengkakan payudara, depresi, dan masalah lainnya. Beberapa minggu setelahnya, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan. 

Di samping itu, untuk menemukan penyebab lahir mati ada beberapa cara yang mungkin dilakukan, seperti:

  • Tes darah
  • Pemeriksaan tali pusat, selaput dan plasenta
  • Uji infeksi
  • Tes fungsi tiroid
  • Tes genetik

Tes tersebut tidak wajib dilakukan, tapi mungkin berguna untuk mencegah risiko bayi lahir mati terulang kembali. 

Mengalami kondisi IUFD tentu tidak akan mudah bagi semua wanita. Bila Moms juga mengalaminya, mintalah bantuan profesional untuk mengatasi rasa kesedihan maupun emosi akibat kehilangan sang janin. 

Jangan ragu juga untuk meminta pertolongan keluarga atau kerabat dekat untuk menemani Moms dalam mengatasi rasa kehilangan. 

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar kehamilan? Silakan chat langsung dengan dokter kami untuk konsultasi. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Reference
    register-docotr